GANGGUAN TUMBUH KEMBANG PADA ANAK


Preventif dan promotif adalah dua dari empat tatalaksana terhadap anak yang mengalami penyakit. Penyakit yang dimaksud juga meliputi gangguan sekecil apapun yang dialaminya seperti gangguan berbicara, gangguan mendengar, gangguan dalam berjalan, dan lainnya.

PREVENTIF

Preventif dapat diartikan sebagai tindakan pencegahan. Pencegahan ini bertujuan agar bayi tidak terkena penyakit. 
Pencegahan dalam arti luas tidak hanya ditujukan kepada mereka yang sehat, tetapi juga terhadap mereka yang sakit. Pencegahan bertujuan agar yang sehat tidak menjadi sakit, dan yang sakit tidak bertambah parah sakitnya. Karena itu, pencegahan memiliki batasan yaitu “the act of keeping from happening”. Dalam pelayanannya secara umum, dokter berusaha agar tidak terjadi 6D atau “death, disease, disability, discomfort, dissatisfaction, and destitution (kematian, penyakit, cacat, nyeri, ketidakpuasan, dan penderitaan)”.

Agar dapat mengetahui cara pencegahan, ada baiknya jika kita terlebih dahulu mengetahui bagaimana timbulnya suatu penyakit. Para ahli epidemiologi membagi menjadi 3 bagaimana timbulnya suatu penyakit. Bentuk terebut adalah :


1. The Epidemiologic Triangle : terdapat tiga faktor yaitu agen, induk semang, dan lingkungan yang saling mempengaruhi

2. The Web of Causation : suatu penyakit timbul akibat serangkaian proses sebab dan akibat

3. The Wheel : tidak menekankan terhadap agen melainkan faktor-faktor lain yang berperan terhadap timbulnya suatu penyakit



Setelah mengetahui bagaimana suatu penyakit timbul, kita dapat melakukan pencegahan. Berdasarkan kapan seorang dokter melakukan upaya pencegahan, terdapat 3 tingkat pencegahan atau level of prevention yang terdiri dari :

1. Pencegahan Primer (Primary Prevention) :

Pencegahan awal dengan cara menghindari faktor-faktor risiko yang ada seperti melaksanakan imunisasi penyakit menular, menganjurkan masyarakat berhenti merokok, pemeriksaan dini virus hepatitis B, dan sebagainya

2. Pencegahan Sekunder (Secondary Prevention) : 

tingkat pencegahan ini dilakukan dengan cara melakukan deteksi dini suatu penyakit saat penyakit itu belum timbul. Hal ini dilakukan agar jika ternyata ditemukan suatu kelainan, maka dapat dilakukan pengobatan dini yang menghentikan penyebaran penyakit lebih lanjut

3. Pencegahan Tersier (Tertiary Prevention) : 

tingkat pencegahan dengan cara melakukan tindakan klinis langsung yang bertujuan mencegahan kerusakan lebih lanjut dan mengurangi komplikasi setelah penyakit itu dideteksi. 



Pada anak hingga usia 2 tahun, sebaiknya lebih ditingkatkan pencegahan tingkat primer. Pencegahan ini dapat dilakukan dengan cara mengikuti program imunisasi. Di Indonesia, terdapat suatu program yang dinamakan Pekan Imunisasi Nasional (PIN) dimana terdapat suatu pekan pada saat balita umur 0-59 bulan yang bertempat tinggal di Indonesia mendapat 2 tetes vaksin polio oral. 

Ternyata, hingga anak usia 2 tahun, tidak hanya vaksin polio yang harus diberikan. Jika merujuk kepada Red Book yang dikeluarkan oleh American Academy of Pediatrics, hingga usia 2 tahun imunisasi yang harus diberikan adalah imunisasi Hepatitis B, DTaP (Diphteria, Tetanus, Pertussis), H. Influenza type b, Polio, MMR (Measles, Mumps, Rubella), dan Varicella.



PROMOTIF

Promotif adalah upaya untuk memberikan penyuluhan kepada masyarakat sekitar guna menunrunkan tingkat masyarakat yang terserang penyakit khususnya pada anak balita. Pada awalnya, pelayanan kesehatan hanya bersifat kuratif atau hanya pengobatan untuk penyakitnya. Tetapi semakin berkembangnya pengetahuan, pihak medis merasa perlu adanya pelayanan yang bersifat preventif, promotif, dan rehabilitatif.

Teknis pelayanan bersifat promotif ini adalah dengan memberikan penjelasan mengenai penyakit/penyebab sakitnya supaya tidak kambuh lagi, yaitu dalam bentuk penyuluhan kesehatan yang bersifat konseling. Saat ini dikenal penyuluhan yang dinamakan Penyuluhan Kesehatan Masyarakat Rumah Sakit (PKMRS). Penyuluhan ini adalah komunikasi dua arah yang ditujukan pada keluarga penderita, khususnya untuk membantu pelayanan penderita sebagai “consumer” yang sedang dirawat di rumah sakit. Tujuan dari PKMRS adalah :

1. Untuk penderita dan keluarga 

memberikan pengetahuan tentang penyakitnya supaya mau bekerja sama dengan instasi yang ada dalam proses penyembuhan. Selain itu dapat juga mencegah kekambuhan, penularan, dan menjelaskan kepada keluarganya yang lain agar tidak terjangkit penyakit yang sama.

2. Untuk petugas / rumah sakit : 

dapat menambah pengetahuan dan meningkatkan pelayanan rumah sakit terhadap pasien.

Metoda dan media penyuluhan terdiri dari:

1. Langsung : wawancara, diskusi, demonstrasi, diskusi terfokus, dan ceramah

2. Tak Langsung : menggunakan media seperti video, poster, leaflet, kaset, dan lainnya



REHABILITATIF

Rehabilitasi medis adalah proses pelayanan medis yang bertujuan mengembangkan kesanggupan fungsional dan psikologik seseorang dan kalau perlu mengembangkan mekanisme kompensatorik sehingga memungkinkan bebas dari ketergantungan dan dapat menjalani kehidupan secara aktif di masyarakat.

Pelayanan rehabilitasi medis mencakup:

a. Fisioterapi, pengobatan dengan menggunakan latihan-latihan fisik; terutama menyangkut gangguan motorik kasar.

b. Ortotik-prostetiki, pelayanan dalam hal pembuatan alat-alat bantu dan alat-alat pengganti

c. Terapi okupasi, latihan-latihan ketrampilan dan latihan koordinasi dari otot-otot motorik halus.

d. Psikologi, membantu penderita yang mengalami gangguan psikis dan melakukan pemeriksaan/tes psikologi maupun perkembangan sosial anak.

e. Terapi wicara, memberikan latihan-latihan pada pasien yang mengalami gangguan bicara/tidak mampu bicara.

f. Pembimbing Sosial Medis(PMS), membantu penderita dalam hal yang menjadi masalah-masalah sosial yang dihadapi selama sakit.



Tata Laksana Gangguan Bicara dan Bahasa pada Anak.

Diagnosis yang tepat terhadap gangguan bicara dan bahasa pada anak, sangat berpengaruh terhadap perbaikan dan perkembangan kemampuan bicara dan bahasa. Terapi sebaiknya dimulai saat diagnosis ditegakkan, namun hal ini menjadi sebuah dilema, diagnosis sering terlambat karena adanya variasi perkembangan normal atau orang tua baru mengeluhkan gangguan ini kepada dokter saat mencurigai adanya kelainan pada anaknya sehingga para dokter lebih sering dihadapkan pada aspek kuratif dan rehabilitatif dibandingkan preventif. Tata laksana dini terhadap gangguan ini akan membantu anak – anak dan orang tua untuk menghindari atau memperkecil kelainan di masa sekolah. 

Gangguan bicara dan bahasa pada anak cenderung membaik seiring pertambahan usia, dan pada dasarnya perkembangan bahasa dilatarbelakangi perawatan primer orang tua dan keluarga terhadap anak. Usaha preventif pada masa neonatus, bayi dan balita dapat dilakukan dengan memberi pujian dan respon terhadap segala usaha anak untuk mengeluarkan suara, serta memberi tanda terhadap semua benda dan kata yang menggambarkan kehidupan sehari-hari. Pola intonasi suara dapat diperbaiki sejalan dengan respon anak yang semakin mendekati pola orang dewasa. Secara umum, anak akan berusaha untuk lebih baik saat orang dewasa merespon apa yang diucapkannya tanpa menekan anak untuk mengucapkan suara atau kata tertentu. Sebagai motivasi ketika seorang anak berbicara satu kata secara jelas, pendengar sebaiknya merespon tanpa paksaan dengan memperluas hingga dua kata.



Beberapa cara yang dapat diterapkan untuk memberi semangat dalam proses perkembangan bahasa anak :

• Ekspresi kalimat seru

• Mengombinasikan ekspresi verbal dengan mengarahkan atau melakukan gerak isyarat untuk mendapatkan

benda

• Mengoceh selama bermain

• Menirukan kata terakhir yang diucapkan anak

• Menirukan suara lingkungan

• Berusaha untuk bernyanyi



Tindakan kuratif penatalaksanaan gangguan bicara dan bahasa pada anak disesuaikan dengan penyebab kelainan tersebut. Penatalaksanaan dapat melibatkan multi disiplin ilmu dan terapi ini dilakukan oleh suatu tim khusus yang terdiri dari fisioterapis, dokter, guru, dan orang tua pasien. Beberapa jenis gangguan bicara dapat diterapi dengan terapi wicara, tetapi hal ini membutuhkan perhatian medis seorang dokter. Anak-anak usia sekolah yang memiliki gangguan bicara dapat diberikan pendidikan program khusus. Beberapa sekolah tertentu menyediakan terapi wicara kepada para murid selama jam sekolah, meskipun menambah hari belajar.

Konsultasi dengan psikoterapis anak diperlukan jika gangguan bicara dan bahasa diikuti oleh gangguan tingkah laku, sedangkan gangguannya bicaranya akan dievaluasi oleh ahli terapi wicara.

Anak tidak hanya membutuhkan stimulasi untuk aktifitas fisiknya, tetapi juga untuk meningkatkan kemampuan bahasa. Bila anak mengalami deprivasi yang berat terhadap kesempatan untuk mendapatkan pengalaman tersebut, maka akibatnya perkembangannya mengalami hambatan.

Beberapa cara menstimulasi anak diantaranya :

1. Berbicara

Setiap hari bicara dengan bayi sesering mungkin. Gunakan setiap kesempatan seperti waktu memandikan bayi, mengenakan pakaiannya, memberi makan dan lainlain. Anak tidak pernah terlalu muda untuk diajak bicara.

2. Mengenali berbagai suara

Ajak anak mendengarkan berbagai suara seperti musik, radio, televisi. Juga buatlah suara dari

kerincingan, mainan, kemudian perhatikan bagaiman reaksi anak terhadap suara yang berlainan.

3. Menunjuk dan menyebutkan nama gambar-gambar

Ajak anak melihat gambargambar, kemudian gambar ditunjuk dan namanya disebutkan, usahakan

anak mengulangi katakata, lakukan setiap hari. Bila anak sudah bisa menyebutan nama gambar,

kemudian dilatih untuk bercerita tentang gambar tersebut

4. Mengerjakan perintah sederhana

Mulai memberikan perintah kepada anak misal “letakkan gelas di meja”. Kalau perlu tunjukkan

kepada anak cara mengerjakan perintah tadi, gunakan kata - kata yang sederhana.



Terapi anak gagap diawali dengan mengurangi stres emosional disertai bimbingan dan konseling terhadap orang tua demi kemajuan anaknya. Hampir separuh anak gagap dapat mengatasinya, walaupun demikian rujukan ke ahli terapi wicara merupakan bantuan yang sangat penting bagi anak, dan terapi lebih efektif jika dimulai pada masa pra sekolah. Indikasi rujuk yaitu jika anak terlihat tidak nyaman atau cemas saat bicara atau kecurigaan adanya hubungan gangguan ini dengan kelainan neurologis ataupun psikis pada anak. Dalam perjalanan tata laksana gangguan bicara dan bahasa, orang tua diharapkan untuk selalu memberikan motivasi terhadap anak atas perkembangan kemampuan berbicara dan berbahasa anaknya walaupun baru memperlihatkan sedikit perbaikan.

0 komentar:

Poskan Komentar